Senin, 30 April 2012


Welcome, MAY!
-         May, be the strength.
-         May, grow strong. I'm growing up too.

Selamat tinggal, APRIL.
Will see you next year. Amin.

Minggu, 29 April 2012

Memories.



Ia masih berdiri disana. Dengan bekal potongan kenangan, ia mulai mengumpulkan potongan-potongan lainnya. Dengan susah payah ia berdiri-mununduk lalu berdiri lagi, berlari-lari kecil mencari potongan-potongan yang berceceran. Napasnya memburu, tersengal-sengal. Peluh membasahi dahi, tangan dan bajunya. Ia letih. Ditangannya, potongan-potongan yang ia kumpulkan sudah menggunung sampai-sampai ia harus menampung sebagian lain di bajunya. Ia bingung. Masih banyak potongan-potongan lain yang harus ia kumpulkan namun tak ada lagi tempat untuk menampungnya. Sejauh ia memandang, tidak ada apa-apa. Yang terlihat hanya warna putih. Semuanya putih. Ia melihat sekeliling—lagi, dikejauhan sebelah sana, ia masih bisa melihat potongan-potongan yang harus ia ambil. Mukanya pucat, bibirnya bergetar. Air mata menggenang dipelupuk matanya, siap untuk membasahi pipinya. Dan akhirnya ia benar-benar menangis. Semua potongan yang ia kumpulkan tadi jatuh berhamburan dari baju dan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangisnya mulai reda lalu ia bangkit dan membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya. Mengangguk pelan dan kemudian melangkah pergi. Ia berpikir, seberapa kuat ia mencari dan mengumpulkan semua potongan kenangan yang ia punya di waktu lalu, ia tidak akan berhasil melengkapkannya. Kenangan itu malah akan jatuh berhamburan. Ia berpikir bahwa memang sebaiknya semua kenangan itu ia tinggalkan disana. Abadi ditempatnya berada. Karena kenangan, baginya, tetaplah kenangan. Tidak ada yang bisa merubah itu.

Mishfah Fathiyyah

Lia's victory and Golni's tragedy.


Kemarin pagi bawaannya malaaaaas skali padahal saya pengen nonton Lia stortell di Spendu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk pergi sekolah skalian nonton Lia. Sampe disekolah, hanya ada beberapa orang yang datang. Sunyi. 9c hanya ada Indah, Fadlun, Caca, Yuni, Poster, Bep, Fiqri, Ai dan Adit. Menurut survei, Lia bakal tampil jam 9 dan ketika saya datang kesekolah, waktu masih menunjukan pukul 8 lewat 30 menit. Maka jadilah kita menunggu sedikit sambil bermain voli ria. Sebenarnya saya tidak berminat ikutan main, saya sudah berpikir pasti tanganku bakal copot semua. Pasti sakit. Tapi karena melihat mereka kegirangan main dan juga mereka kukuh mengajak main, akhirnya saya pun ikut. Pukulan pertamaku sukses walaupun terlalu miring. Pukulan kedua, bolanya sudah terbang entah kemana dan tanganku mulai sakit. Pukulan ketiga, keempat, dan kelima, bolanya sudah loncat sana loncat sini mengikuti kemana angin membawanya pergi *ejebilah _-_* dan tanganku benar-benar copot! Saya berhenti main.
***
Turun dari angkot, tidak ada yang berani masuk deluan ke SMP 2. Maluu :/ takut disoraki. Ada yang memilih untuk pulang saja kesekolah, ada yang tetap mau nonton Lia, ada juga yang tidak ikut angkat suara. Akhirnya dengan secuil keberanian, kami pun melangkah masuk. Dengan takut-takut kita tanya dimana letak gedung E, tempat lomba stortell. Beberapa orang yang ditanya hanya saling pandang dan bergumam tidak jelas. Akhirnya yang duduk di pos menjawab walau sedikit tidak jelas dan ragu-ragu tapilah untung Iza datang dan membawa kami menuju tempat lomba. Pas lewat didepan anak-anak yang punya sekolah, betul apa yang kita pikirkan. Pasti disoraki. “Eh ada anak Al-Azhar”, “Eh anak Al-Azhar pulang saja”, “Eh eh eh eh dan eh” _-_ kita sebagai siswa yang berbudi pekerti luhur, lebih memilih diam saja dan terus berjalan. Mengacuhkan anak-anak tadi.
Sampe ditempat lomba, tidak ada yang bisa dilihat. Hanya kepala-kepala yang juga ikut berkerumun didepan pintu masuk ruangan lomba. Saya hanya berjinjit-jinjit tapi tidak berhasil. Saya tetap tidak bisa lihat orang yang sedang stortell. Tapi tiba-tiba ada pengumuman dari pengeras suara. “Bagi siswa kelas 7 dan 8 segera berkumpul”. Alhamdulillah, hus hus hus. Kamorang yang dipintu pergilah. Ayo pergilah tapi saya bilangnya dalam hati. Akhirnya kerumunan tadi bekurang—sedikit sekali. Kali ini saya lebih menggencarkan aksi jinjitku dan akhirnya berhasil. Saya cuma bisa liat kepalanya orang yang lagi stortell _-_ seiring waktu berjalan, akhirnya orang-orang yang masih berkerumun tadi benar-benar pergi dan akhirnya yang tersisa tinggal kami berenam berdiri loyal didepan pintu. Mirip orang yang minta sumbangan bukan mirip orang yang lagi nonton stortell. Dengan perlahan, kami pun agak mundur supaya tidak terlalu terlihat. Malu juga *serbasalah*
Tiba giliran terakhir yaitu giliran si Lia yang tampil. Dengan khidmat kami memperhatikan Lia yang membawakan cerita berjudul “Cry Stone” dengan sangat apik didepan para juri. Pokoe Lia is the best dah. Beberapa menit kemudian, babak kedua dimulai yaitu membawakan cerita internasional dan ketika Lia tampil, woho! Amazing. Lucuuuu skali. Ginger bread woman. Pokoe Lia masih yang the best dah. Tiba saat pengumuman, malah kita yang degdegan. Tapi akhirnya juara satu jatuh ditangan Syarifah Aliyah Fitrisam. Congrat Lia. Paling debest {}
***
Sorenya, kita ke Golni. Nonton film Ayah mengapa aku berbeda. Sayang kita hanya berenam. Saya, Indah, Fadlun, Caca, Syarifah and Lia—Syarifah’s sister. Beh walapun hanya berenam, kita maju terus, mundur juga boleh. Sampe di Golni... krikrik wuuuuuuuussssss. Tengneng, sunyi. Tapi di gedung besar sebelah sana banyak Kaka-Kaka panitia—kayanya. Dengan modal berani—lagi, kita masuk ke gedung, ambil karcis. Masuk dalam gedung... Waaaaaaaaah. Kaya bioskop betulan *maklumsayabelumpernahkebioskopbetulan* tapi keren. Serasa di bioskop bioskop yang ada di Jakarte sono ._.v
Kita duduk dibarisan tengah. Tengok kanan tengok kiri tengok belakang, fiuuuuuuuuh~~~~~ no one else. Cuma kita berenam ini yang menonton? Mana orang he? Bagemana kita terlalu cepat datang, Syarifah menyahut. Orang-orang itu nontonnya malam, Syarifah menyahut lagi. Kaka panitia tadi sudah putar film. Dengan takzim kita menonton. Ada saat saya dan Fadlun cekikikan terus. Menertawakan kesalahan ataupun kelebayan yang terjadi didalam film tersebut. Sedangkan Caca dan Indah disebelah sana sudah tare-tare ingus. Lia apalagi, dia tersedu-sedu disamping Syarifah. Ga asik wong minumnya cuma nutrisari mungkin itu tapi yang penting masih dikasih minum.
Beberapa menit kemudian, teman-teman lain tambah tersedu-sedu. Karena agak jenuh, saya melihat sekitar. Eh so rame dan. Sudah ada beberapa orang yang juga datang dan duduk menonton. Disampingku, Syarifah menyahut, “Kita tidak berenam lagi tapi berenam puluh” Jhahaha. Saya dan Fadlun tambah ngakak lagi.
Sebenarnya, banyak skali adegan sedih tapi apa mau dikata, air mataku tak kunjung keluar tapi ketika tiba di adegan dimana Ferli meninggal, air mataku betul-betul meluncur bebas. Mengingat si Angel harus kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya. Pertama Ayahnya, lalu sang kekasih—Ferli. Film sudah mau habis, tinggal satu orang yang belum menangis. Fadlun. Dari tadi dia rusuh terus “Hai film so mo habis baru saya belum ada menangis he”, “Eh sapa suru ketawa terus”. Akhirnya sampe film selesai, Fadlun tidak mengeluarkan setetes pun air mata. Ah payah.
***
Lembayung tampak indah dibalik tiang-tiang jembatan empat. Ditemani senja, kami menyusuri jalan pulang menuju Suharso.

Mishfah Fathiyyah

Sabtu, 28 April 2012

Justin Bieber Sebut Indonesia Sebagai Negeri Antah Berantah


"Saat itu aku berada di negeri antah-berantah," ujar Justin, kemudian dilanjutkan oleh sang manajer, "Indonesia".

Seperti diberitakan Daily Mirror, ada beberapa karya Bieber yang direkam di salah satu studio musik di Indonesia. Rekaman itu dilakukan saat dirinya tengah konser di sini pada April 2011.

Ucapan Justin Bieber tentang Indonesia itu dilakukannya saat penyanyi asal Kanada ini sedang mempromosikan album barunya 'Believe' di Inggris. Dia menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan pembawa acara pencarian bakat "The Voice" Reggie Yates seputar proses pembuatan karya barunya.

"Di sana (Indonesia) aku rekaman di sebuah studio," pelantun lagu "Baby" itu melanjutkan, "Tempatnya kecil. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang mereka lakukan."

Saat pembawa acara "The Voice" ingin menutup sesi dengan Justin Bieber, tingkah pacar Selena Gomez ini semakin menjadi. Dia secara frontal menyinggung aksen berbicara orang Inggris.

"Kata 'think' itu menggunakan 'th', bukan 'f'," ujar Justin ke pembawa acara "The Voice" Reggie Yates.

Rabu, 25 April 2012

IT'S OVER.


UN telah benar-benar berbenah dan pergi. Pulang dan akan kembali 3 tahun lagi. 4 hari yang benar-benar penuh dengan perjuangan. Setelah kurang lebih 4 hari bermesraan dengan buku-buku pelajaran dan kertas-kertas latihan soal, sekarang waktunya bagi mereka untuk diasingkan. Sungguh adalah 4 hari yang melelahkan. Dengan peluh dan keringat serta bersimbah darah, akhirnya kami, siswa kelas IX sampai di penghujung perang. Dan akhirnya hari ini, perang benar-benar berakhir. Semoga kita semua LULUS. AMIN.

Selasa, 24 April 2012

More Than This - One Direction


[Liam]
I’m broken, do you hear me?
I’m blinded, ‘cause you are everything I see,
I’m dancin’ alone, I’m praying,
That your heart will just turn around,
And as I walk up to your door,
My head turns to face the floor,
‘Cause I can’t look you in the eyes and say,
[HARRY]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
Can love you more than this
[NIALL]
If I’m louder, would you see me?
Would you lay down
In my arms and rescue me?
‘Cause we are the same
You saved me,
When you leave it’s gone again,
[Louis]
And when I see you on the street,
In his arms, I get weak,
My body fails, I’m on my knees,
Prayin’,
[EVERYONE]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,
[ZAYN]
I’ve never had the words to say,
But now I’m askin’ you to stay
For a little while inside my arms,
And as you close your eyes tonight,
I pray that you will see the light,
That’s shining from the stars above,
(And I say)
[LIAM]
When he opens his arms and holds you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
[ZAYN]
‘Cause I can love you more than this
[EVERYONE]
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this, yeah,
When he opens his arms and hold you close tonight,
It just won’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
When he lays you down,
I might just die inside,
It just don’t feel right,
‘Cause I can love you more than this,
Can love you more than this

Taken - One Direction


[Liam]
Now that you can’t have me
You suddenly want me
Now that I’m with somebody else
You tell me you love me
I slept on your doorstep
Begging for one chance
Now that I finally moved on
You say that you missed me all along
[Harry]
Who do you think you are?
Who do you think I am?
You only love to see me breaking
You only want me cause I’m taken
You don’t really want my heart
No, you just like to know you can
Still be the one who gets it breaking
You only want me when I’m taken
[Harry]
You’re messing with my head
Girl that’s what you do best
Saying there’s nothing you won’t do
To get me to say yes
You’re impossible to resist
But I wouldn’t bet your heart on it
It’s like I’m finally awake
And you’re just a beautiful mistake
[Harry]
Who do you think you are?
Who do you think I am?
You only love to see me breaking
You only want me cause I’m taken
You don’t really want my heart
No, you just like to know you can
Still be the one who gets it breaking
You only want me when I’m taken
[Zayn]
Thank you for showing me
Who you are underneath
No, thank you, I don’t need
Another heartless misery
You think I’m doing this to make you jealous
And I know that you hate to hear this
But this is not about you anymore
[Harry]
Who do you think you are?
Who do you think I am?
You only love to see me breaking
You only want me cause I’m taken
You don’t really want my heart
No, you just like to know you can
Still be the one who gets it breaking
You only want me when I’m taken
[Liam]
Now that you can’t have me
You suddenly want me

Jumat, 20 April 2012


"Maaf kalo kita tidak bisa jadi dinding yang ada dibelakang kalian" | "Maaf kalo kita tidak ada saat kalian butuh"

Quoted from Muh. Nur Fiqri

UN


UN sudah didepan pintu rumah. Datang dengan rupanya yang menawan. Siap untuk bertamu dirumah itu. Ia datang dengan pakaian serba putih dengan huruf dan angka yang menghiasi pakaiannya. Perlahan ia duduk manis diruang tamu sambil bercengkrama dengan si pemilik rumah. Prediksiku, mereka akan terus bercengkrama seperti itu hingga beberapa hari kedepan. Pasti melelahkan. 

Rabu, 18 April 2012

Kecoa.


**
Saya betul-betul mirip kecoa sekarang. Betul-betul mirip. Kecoa, kalo sudah terbalik, pasti susah mo kembali ke posisi awal. Kecoa, kalo sudah terbalik, pasti bagian perutnya menghadap ke atas, bayangkan saja. Betapa menjijikan. Menggelepar-gelepar, kaki-kakinya mencakar-cakar udara, mencari pertolongan, berharap ada yang membalikkan tubuhnya seperti semula. Jijik. Dibandingkan dengan kondisiku sekarang, mungkin beti beti amat. Kondisi yang terjadi sekarang betul-betul terbalik dan sangat bertolak belakang dari sebelumnya. Layaknya kecoa yang badannya kebalik, kondisi sekarang pun begitu. Dan kondisi yang terbalik ini sulit untuk dibalikkan kembali, sulit untuk diperbaiki dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Tidak akan sama lagi.
Saya akan tetap seperti ini. Tidak bicara. Saya terlampau terbalik seperti kecoa-kecoa itu. Saya betul-betul menolak berbicara. Lihat sosokmu saja, kelebat “masalah” sampah itu pasti muncul lagi, membuat saya enggan melontarkan kalimat-kalimat ringan yang dulu sering saya ucapkan ke kau. Semuanya terasa asing. Semua yang berhubungan dengan kau. Mungkin di seberang lautan sana, kau mah santai-santai saja menanggapi masalah ini dan berkata: beh biasa aja, masih tetap kaya dulu. Haha biarlah kau saja yang menganggap ini biasa saja. Toh mau biasa ataupun luar biasa, saya akan tetap seperti ini. Tidak bicara, tidak mengatakan apa-apa. Kau sadar tidak? Kau menganggap hal ini biasa tapi lakumu luar biasa. Kau juga menolak berbicara dengan saya kan? Haha akuilah itu. Kau juga bereaksi sama dengan saya, ya kan? Lucu. Lucu sekali kau berkelakuan seperti itu. Safe mode amat lu men.
Ehem. Pengecut. Haha jangan marah dulu kalo saya bilang “pengecut”. Yang pengecut itu kan bukan hanya kau. Saya dan KAU. Kita sama-sama pengecut. Sama-sama menjauh, mengambil jarak sejauh mungkin walau saya akui, kau memang terlihat lebih santai tapi, tetap pengecut. Je, sebenarnya saya masih heran ko tau. Masih bingung kenapa kita jadi seperti ini. Heraaaan saya. Alisku berkerut-kerut ba pikir. Tapi satu poin yang saya tangkap. Waktu itu. Pasti karena waktu itu. Saya ingat. Kita “membicarakan (orang)”. Kau ingat kan? Pasti kau ingat. Kita berdiskusi lah kata sopannya. Mendiskusikan ORANGMU. Kau mulai diskusi itu dengan 5 kata yang sempat kau bilang ke orangmu. Ok, saya mengerti sms 5 kata itu. Kemudian saya balas dengan 3 huruf menggunakan capslock. Lalu kau balas lagi dengan satu kata yang juga pernah kau bilang ke orangmu dan saya balas lagi dengan beberapa kata yang cukup serius karena jujur, waktu itu saya merasa terganggu kau sms seperti itu. Sms itu terus berlanjut dan sampai pada klimaks. SAMPAH. Itu yang menjadi akhir dari semuanya.
Besoknya, kau terlihat santai. Santai sekali. Malah kau masih sempat sms saya dengan gayamu yang biasa. Lambat laun, mungkin kau merasakan perubahan sikapku dan kau juga berusaha untuk melakukan hal yang sama! Oke saya bertahan dengan apa yang saya mulai. Kau tidak bicara, kenapa saya harus melakukan sebaliknya? Kau tidak memulai apa-apa, kenapa saya juga harus melakukan sebaliknya? Mari sejenak kita nonton kembali apa yang benar-benar terjadi waktu itu dan renungi itu. Tapi tidak. Saya capek mengulangi apa yang membuat saya muak. Sudahlah. Kau sakit, saya sakit. Mari bersakit-sakit ria. Kau tahu? Biarkan waktu yang menjadi obat.

Senin, 16 April 2012

@ztdnamn


*Zata Dini Amani*
**
Sekarang bulan April, saya tidak bakal lupa kebiasaan rutin. Describing someone. Oke here we go.
Saya punya teman sekelas. Badanya besaaaaaar. Gendut? Kasar amat. Gode? Ah kaga. Badanya bergelembung? Haha kayanya cakep tuh. Maksudku, badannya ber-isi lah. Kulit... itam gosong? Mendekati lah. Bagemana tidak? Pulang pergi sekolah, les, dtl naik motor dibawah terik matahri Palu. Ditambah angin laut yang sangat mendukung, si dia pake tinggal di pinggir pante pula. Kampung Nelayan oy. Siapa lagi yang tinggal di Kampung Nelayan kecuali Si Damn. Zata Dini Amani @ztdnamn.
Damn duduk di barisan paling depan, didepan saya dan Jihan karena ya, dia agak rabun. Orangnya manis itam bukan itam manis :p berperawakan ceriaaaaaa bangets. Punya ketawa yang menggelegar. Pandai menulis. Bukan nulis abcd tapi nulis cerpen. Tulisannya baguuuus banget, ya iyalah, bulan Juni 2011 lalu, Damn mewakili Indonesia ke ajang international. Lomba ngorek upil pake gunting! Hebat kan dia? Haha yang betulnya, dia mewakili Sulteng ke Makassar, lomba cerpen. Saya suka baca cerpennya, memang bawaan orok udah berbakat nulis. Din, kapan-kapan riwayat hidupku di cerpenin sama kamu ya? Kan bagus tuh kalo judul cerpennya memuat tentang saya “1000 orang paling tidak berpengaruh terhadap dunia” bagemana? Keren kan?
Oke lanjut...
Dini punya suara emas. 24 karat! Suaranya bagus sekaaaali apalagi kalo ketawa. Vibranya kelihatan banget. Kalo kentut juga bagus kok, berirama. Zzzz. Kalo ada lomba-lomba nyanyi antar kelas, pasti si Damn yang bakal unjuk hidung. Hidung sapa yang paling pesek, nah itu dia. Tapi sayangnya, Dini belum berhasil menjadi jawara nyanyi padahal si dia kan suaranya bagus. Tau tuh para juru pada sableng semua. Telinganya kemasukan gajah segede gunung.
Dini jago dalam berbagai bidang. Bukan cuma menulis cerpen dan nyanyi, dia juga jago terlambatnya. Langganan guru piket mah. Selaaaaluuuu terlambat padahal dia pikul motor sendiri dari rumah. Pernah lalu, saya dan Jihan keluar kelas mo beli pulpen sama Ka Amid, eh dikejauhan kita lihat Dini dengan susah payah dorong motor beat hitam kesayangannya, ya terlambat lagi dia. Dengan rasa kasihan yang tidak begitu dalam, saya dan Jihan berinisiatif untuk bantu dorong. “Cepat Dini he. Sudah masuk kita” | “Iyoooo sabaaaar” | “Eh mo tabera kita ba dorong motor ini” | “Sudah ta usah banyak bicara, dorong sudah” | dengan ngos-ngosan kita ba dorong motor akhirnya sampe juga ditempat parkiran. Ya Allah. Setelah itu, saya sudah ilang feeling mo beli pulpen. Akhirnya sia-sia saya keluar dari kelas :( ketemu Dini, rasa kasian, eh malah keterusan bantu. Te jadi beli pulpen. Zxzxzxzxzxz. Dini juga orangnya masa bodo, malas pula. Kalo sudah kena hukum, pasti biasanya kabuuur pulang. Nah pas besok, dipanggillah dia oleh Sang Master dan mendapatkan “pembinaan” dua kali lipat. Kasiaaaanya DINI.

“Dini pinjam novelmu yang itu ha” | “Habis itu saya!” | “Saya habis Mishfah!” | “Dini saya juga ha!” | “Din bawa semua jo novelmu besok ha” | “Iyooooooooooooooo”
Begitulah.... Dini si saleswoman. Menjajakan novel dikelas. Tepatnya, DINI punya banyak koleksi novel. Bagus-bagus lagi. Tak ayal, banyak orang yang antri pinjam novel tapi kasian di Dininya, pasti pas novelnya kembali kepangkuannya, eh si novel sudah kaga perawan lagi. Kusut lah, kotor lah, tarobe lah, ta lipat lah, ta bakar lah, ta jual lah. Pokonya macam-macam konflik yang novelnya alami. But thanks for all of your novels. Saya paling suka novelnya Dini yang “IF” dan “Till We Meet Again”. Saya juga ingat, novel pertama yang saya baca itu juga novel dari Dini, “Cruise On You” thax thax thax buat novel anda ya.
Well, akhir kata... Din, ko tidak di SMA Al-Azhar kan? Itu berarti kita berpisah kan? Mana kau ke Pekanbaru, jaaaauh amat. Din, disinilah, sama-sama kita tapi kayanya temungkin mengingat kau sudah mengundurkan diri dari SMA Al-Azhar. Din, tidak ada lagi yang saya nebengkan kalo pulang sekolah. Din, kita tidak bakal dengar suara emasmu lagi di SMA nanti. Din, kita tidak akan pake seragam yang sama lagi. Din, te ada lagi yang pinjamkan saya novel, tidak ada lagi yang sering terlambat. Din, jangan lupa kita ha. Jangan lupa your Genkers. Jangan lupa kalo ko punya banyak warna yang masih tersisa di sini. Jangan lupa kita ha.


Minggu, 15 April 2012

Haru :'(


Hepesaya telah kehilangan karisma setelah meluncur bebas ke got samping rumah. Betapa terharunya saya...

Sabtu, 14 April 2012

Away.


**
Yang satu pergi, yang lain ikut pergi. Akhir-akhir ini, hidupku menyedihkan sekali. Masalah datang berbondong-bondong, mengerubuniku lalu menghancurkanku sampe tinggal ampas! Saya lelah. Hatiku, pikiranku, badanku, semuanya lelah. Terlalu banyak orang dan hal-hal penting maupun tidak penting berseliweran, datang dan pergi. Baru-baru ini, telah terjadi tragedi sampah yang membuat saya kocar-kacir mengatasinya dan pada akhirnya, semuanya hancur gara-gara tragedi itu. Belum lama ini juga terjadi kesalahpahaman yang begitu besar oleh pihak yang bersangkutan. Saya sangat menyayangkan pikiran orang itu tentang sesuatu hal. Padahal semua itu merupakan sebuah perwujudan dari rasa kasih sayang kita kepada dia dalam bentuk yang sangat kompleks dan begitu dinamis serta kekompleksan dan kedinamisan itulah yang membuat orang itu tidak dapat menangkap makna dibaliknya serta merasa bahwa kita mengabaikannya. Yah, saya maklum dengan ketidak pahamannya tapi saya tidak bisa terima atas pemberontakan yang dia lakukan secara tidak langsung tapi cukup terlihat jelas oleh saya pribadi.
MUNGKIN, ketika orang itu membaca tulisan ini, dia akan merasa familiar dengan kondisi yang saya gambarkan diatas dan JIKA SAJA... pasti esok harinya dia akan kembali menanyakan hal yang sama: Ifa yang diblogmu itu bukan saya kan?

Kamis, 12 April 2012

HAH!


Tidak jelas apa yang terjadi antara kita. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Sesuatu yang betul-betul aneh. Datang karena urusan orang lain bukan karena urusan sendiri. Sibuk mebicarakan orang lain dan akhirnya berkelahi. Tidak jelas. Sebab musababnya pun terlihat buram. Yang jelas hanyalah bahwa kita benar-benar memutuskan untuk tidak berinteraksi sama sekali. Tidak sama sekali.

Selasa, 10 April 2012

Kresekresek.

Mungkin begini lebih baik, berjalan beriringan tanpa suara. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Berbicara hanya lewat gumaman seperti: ya, hm, haha, ba dst. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Kalaupun ada, pasti saya maupun dia hanya menanggapi seadanya saja. Selebihnya, kami memilih diam—lagi. Hal itu terus berlanjut sampai sekarang, sampai tadi siang. Saya enggan bertanya karena tidak sanggup mendengar jawaban apapun itu. Saya lebih memilih berjalan bersisian seperti dulu tanpa merubah suasana yang tidak sengaja menciptakan hubungan erat antara kami. Walaupun tidak ada lagi suara maupun canda tawa seperti dulu lagi, setidaknya ada yang tertinggal. Kami masih tetap berjalan berdampingan. Menapak jalan pulang dibawah terik matahari yang memanggang kulit. Ah, apa ini? Saya asing dengan kondisi seperti ini. Berbincang dan tertawa seakan-akan merupakan hal yang tabuh untuk dilakukan.