Kemarin pagi
bawaannya malaaaaas skali padahal saya pengen nonton Lia stortell di Spendu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk pergi sekolah
skalian nonton Lia. Sampe disekolah, hanya ada beberapa orang yang datang.
Sunyi. 9c hanya ada Indah, Fadlun, Caca, Yuni, Poster, Bep, Fiqri, Ai dan Adit.
Menurut survei, Lia bakal tampil jam 9 dan ketika saya datang kesekolah, waktu
masih menunjukan pukul 8 lewat 30 menit. Maka jadilah kita menunggu sedikit
sambil bermain voli ria. Sebenarnya saya tidak berminat ikutan main, saya sudah
berpikir pasti tanganku bakal copot semua. Pasti sakit. Tapi karena melihat
mereka kegirangan main dan juga mereka kukuh mengajak main, akhirnya saya pun
ikut. Pukulan pertamaku sukses walaupun terlalu miring. Pukulan kedua, bolanya
sudah terbang entah kemana dan tanganku mulai sakit. Pukulan ketiga, keempat,
dan kelima, bolanya sudah loncat sana loncat sini mengikuti kemana angin
membawanya pergi *ejebilah _-_* dan tanganku benar-benar copot! Saya berhenti
main.
***
Turun dari angkot,
tidak ada yang berani masuk deluan ke SMP 2. Maluu :/ takut disoraki. Ada yang
memilih untuk pulang saja kesekolah, ada yang tetap mau nonton Lia, ada juga yang
tidak ikut angkat suara. Akhirnya dengan secuil keberanian, kami pun melangkah
masuk. Dengan takut-takut kita tanya dimana letak gedung E, tempat lomba
stortell. Beberapa orang yang ditanya hanya saling pandang dan bergumam tidak
jelas. Akhirnya yang duduk di pos menjawab walau sedikit tidak jelas dan
ragu-ragu tapilah untung Iza datang dan membawa kami menuju tempat lomba. Pas
lewat didepan anak-anak yang punya sekolah, betul apa yang kita pikirkan. Pasti
disoraki. “Eh ada anak Al-Azhar”, “Eh anak Al-Azhar pulang saja”, “Eh eh eh eh
dan eh” _-_ kita sebagai siswa yang berbudi pekerti luhur, lebih memilih diam
saja dan terus berjalan. Mengacuhkan anak-anak tadi.
Sampe ditempat lomba,
tidak ada yang bisa dilihat. Hanya kepala-kepala yang juga ikut berkerumun
didepan pintu masuk ruangan lomba. Saya hanya berjinjit-jinjit tapi tidak
berhasil. Saya tetap tidak bisa lihat orang yang sedang stortell. Tapi
tiba-tiba ada pengumuman dari pengeras suara. “Bagi siswa kelas 7 dan 8 segera
berkumpul”. Alhamdulillah, hus hus hus. Kamorang yang dipintu pergilah. Ayo
pergilah tapi saya bilangnya dalam hati. Akhirnya kerumunan tadi
bekurang—sedikit sekali. Kali ini saya lebih menggencarkan aksi jinjitku dan
akhirnya berhasil. Saya cuma bisa liat kepalanya orang yang lagi stortell _-_
seiring waktu berjalan, akhirnya orang-orang yang masih berkerumun tadi
benar-benar pergi dan akhirnya yang tersisa tinggal kami berenam berdiri loyal
didepan pintu. Mirip orang yang minta sumbangan bukan mirip orang yang lagi
nonton stortell. Dengan perlahan, kami pun agak mundur supaya tidak terlalu
terlihat. Malu juga *serbasalah*
Tiba giliran terakhir
yaitu giliran si Lia yang tampil. Dengan khidmat kami memperhatikan Lia yang
membawakan cerita berjudul “Cry Stone” dengan sangat apik didepan para juri.
Pokoe Lia is the best dah. Beberapa menit kemudian, babak kedua dimulai yaitu
membawakan cerita internasional dan ketika Lia tampil, woho! Amazing. Lucuuuu
skali. Ginger bread woman. Pokoe Lia masih yang the best dah. Tiba saat
pengumuman, malah kita yang degdegan. Tapi akhirnya juara satu jatuh ditangan
Syarifah Aliyah Fitrisam. Congrat Lia. Paling debest {}
***
Sorenya, kita ke
Golni. Nonton film Ayah mengapa aku berbeda. Sayang kita hanya berenam. Saya,
Indah, Fadlun, Caca, Syarifah and Lia—Syarifah’s sister. Beh walapun hanya
berenam, kita maju terus, mundur juga boleh. Sampe di Golni... krikrik
wuuuuuuuussssss. Tengneng, sunyi. Tapi di gedung besar sebelah sana banyak
Kaka-Kaka panitia—kayanya. Dengan modal berani—lagi, kita masuk ke gedung,
ambil karcis. Masuk dalam gedung... Waaaaaaaaah. Kaya bioskop betulan
*maklumsayabelumpernahkebioskopbetulan* tapi keren. Serasa di bioskop bioskop
yang ada di Jakarte sono ._.v
Kita duduk dibarisan
tengah. Tengok kanan tengok kiri tengok belakang, fiuuuuuuuuh~~~~~ no one else.
Cuma kita berenam ini yang menonton? Mana orang he? Bagemana kita terlalu cepat
datang, Syarifah menyahut. Orang-orang itu nontonnya malam, Syarifah menyahut
lagi. Kaka panitia tadi sudah putar film. Dengan takzim kita menonton. Ada saat
saya dan Fadlun cekikikan terus. Menertawakan kesalahan ataupun kelebayan yang
terjadi didalam film tersebut. Sedangkan Caca dan Indah disebelah sana sudah
tare-tare ingus. Lia apalagi, dia tersedu-sedu disamping Syarifah. Ga asik wong
minumnya cuma nutrisari mungkin itu tapi yang penting masih dikasih minum.
Beberapa menit
kemudian, teman-teman lain tambah tersedu-sedu. Karena agak jenuh, saya melihat
sekitar. Eh so rame dan. Sudah ada beberapa orang yang juga datang dan duduk
menonton. Disampingku, Syarifah menyahut, “Kita tidak berenam lagi tapi berenam
puluh” Jhahaha. Saya dan Fadlun tambah ngakak lagi.
Sebenarnya, banyak
skali adegan sedih tapi apa mau dikata, air mataku tak kunjung keluar tapi
ketika tiba di adegan dimana Ferli meninggal, air mataku betul-betul meluncur
bebas. Mengingat si Angel harus kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua
kalinya. Pertama Ayahnya, lalu sang kekasih—Ferli. Film sudah mau habis,
tinggal satu orang yang belum menangis. Fadlun. Dari tadi dia rusuh terus “Hai
film so mo habis baru saya belum ada menangis he”, “Eh sapa suru ketawa terus”.
Akhirnya sampe film selesai, Fadlun tidak mengeluarkan setetes pun air mata. Ah
payah.
***
Lembayung tampak
indah dibalik tiang-tiang jembatan empat. Ditemani senja, kami menyusuri jalan
pulang menuju Suharso.
Mishfah Fathiyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar