Minggu, 29 April 2012

Lia's victory and Golni's tragedy.


Kemarin pagi bawaannya malaaaaas skali padahal saya pengen nonton Lia stortell di Spendu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk pergi sekolah skalian nonton Lia. Sampe disekolah, hanya ada beberapa orang yang datang. Sunyi. 9c hanya ada Indah, Fadlun, Caca, Yuni, Poster, Bep, Fiqri, Ai dan Adit. Menurut survei, Lia bakal tampil jam 9 dan ketika saya datang kesekolah, waktu masih menunjukan pukul 8 lewat 30 menit. Maka jadilah kita menunggu sedikit sambil bermain voli ria. Sebenarnya saya tidak berminat ikutan main, saya sudah berpikir pasti tanganku bakal copot semua. Pasti sakit. Tapi karena melihat mereka kegirangan main dan juga mereka kukuh mengajak main, akhirnya saya pun ikut. Pukulan pertamaku sukses walaupun terlalu miring. Pukulan kedua, bolanya sudah terbang entah kemana dan tanganku mulai sakit. Pukulan ketiga, keempat, dan kelima, bolanya sudah loncat sana loncat sini mengikuti kemana angin membawanya pergi *ejebilah _-_* dan tanganku benar-benar copot! Saya berhenti main.
***
Turun dari angkot, tidak ada yang berani masuk deluan ke SMP 2. Maluu :/ takut disoraki. Ada yang memilih untuk pulang saja kesekolah, ada yang tetap mau nonton Lia, ada juga yang tidak ikut angkat suara. Akhirnya dengan secuil keberanian, kami pun melangkah masuk. Dengan takut-takut kita tanya dimana letak gedung E, tempat lomba stortell. Beberapa orang yang ditanya hanya saling pandang dan bergumam tidak jelas. Akhirnya yang duduk di pos menjawab walau sedikit tidak jelas dan ragu-ragu tapilah untung Iza datang dan membawa kami menuju tempat lomba. Pas lewat didepan anak-anak yang punya sekolah, betul apa yang kita pikirkan. Pasti disoraki. “Eh ada anak Al-Azhar”, “Eh anak Al-Azhar pulang saja”, “Eh eh eh eh dan eh” _-_ kita sebagai siswa yang berbudi pekerti luhur, lebih memilih diam saja dan terus berjalan. Mengacuhkan anak-anak tadi.
Sampe ditempat lomba, tidak ada yang bisa dilihat. Hanya kepala-kepala yang juga ikut berkerumun didepan pintu masuk ruangan lomba. Saya hanya berjinjit-jinjit tapi tidak berhasil. Saya tetap tidak bisa lihat orang yang sedang stortell. Tapi tiba-tiba ada pengumuman dari pengeras suara. “Bagi siswa kelas 7 dan 8 segera berkumpul”. Alhamdulillah, hus hus hus. Kamorang yang dipintu pergilah. Ayo pergilah tapi saya bilangnya dalam hati. Akhirnya kerumunan tadi bekurang—sedikit sekali. Kali ini saya lebih menggencarkan aksi jinjitku dan akhirnya berhasil. Saya cuma bisa liat kepalanya orang yang lagi stortell _-_ seiring waktu berjalan, akhirnya orang-orang yang masih berkerumun tadi benar-benar pergi dan akhirnya yang tersisa tinggal kami berenam berdiri loyal didepan pintu. Mirip orang yang minta sumbangan bukan mirip orang yang lagi nonton stortell. Dengan perlahan, kami pun agak mundur supaya tidak terlalu terlihat. Malu juga *serbasalah*
Tiba giliran terakhir yaitu giliran si Lia yang tampil. Dengan khidmat kami memperhatikan Lia yang membawakan cerita berjudul “Cry Stone” dengan sangat apik didepan para juri. Pokoe Lia is the best dah. Beberapa menit kemudian, babak kedua dimulai yaitu membawakan cerita internasional dan ketika Lia tampil, woho! Amazing. Lucuuuu skali. Ginger bread woman. Pokoe Lia masih yang the best dah. Tiba saat pengumuman, malah kita yang degdegan. Tapi akhirnya juara satu jatuh ditangan Syarifah Aliyah Fitrisam. Congrat Lia. Paling debest {}
***
Sorenya, kita ke Golni. Nonton film Ayah mengapa aku berbeda. Sayang kita hanya berenam. Saya, Indah, Fadlun, Caca, Syarifah and Lia—Syarifah’s sister. Beh walapun hanya berenam, kita maju terus, mundur juga boleh. Sampe di Golni... krikrik wuuuuuuuussssss. Tengneng, sunyi. Tapi di gedung besar sebelah sana banyak Kaka-Kaka panitia—kayanya. Dengan modal berani—lagi, kita masuk ke gedung, ambil karcis. Masuk dalam gedung... Waaaaaaaaah. Kaya bioskop betulan *maklumsayabelumpernahkebioskopbetulan* tapi keren. Serasa di bioskop bioskop yang ada di Jakarte sono ._.v
Kita duduk dibarisan tengah. Tengok kanan tengok kiri tengok belakang, fiuuuuuuuuh~~~~~ no one else. Cuma kita berenam ini yang menonton? Mana orang he? Bagemana kita terlalu cepat datang, Syarifah menyahut. Orang-orang itu nontonnya malam, Syarifah menyahut lagi. Kaka panitia tadi sudah putar film. Dengan takzim kita menonton. Ada saat saya dan Fadlun cekikikan terus. Menertawakan kesalahan ataupun kelebayan yang terjadi didalam film tersebut. Sedangkan Caca dan Indah disebelah sana sudah tare-tare ingus. Lia apalagi, dia tersedu-sedu disamping Syarifah. Ga asik wong minumnya cuma nutrisari mungkin itu tapi yang penting masih dikasih minum.
Beberapa menit kemudian, teman-teman lain tambah tersedu-sedu. Karena agak jenuh, saya melihat sekitar. Eh so rame dan. Sudah ada beberapa orang yang juga datang dan duduk menonton. Disampingku, Syarifah menyahut, “Kita tidak berenam lagi tapi berenam puluh” Jhahaha. Saya dan Fadlun tambah ngakak lagi.
Sebenarnya, banyak skali adegan sedih tapi apa mau dikata, air mataku tak kunjung keluar tapi ketika tiba di adegan dimana Ferli meninggal, air mataku betul-betul meluncur bebas. Mengingat si Angel harus kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya. Pertama Ayahnya, lalu sang kekasih—Ferli. Film sudah mau habis, tinggal satu orang yang belum menangis. Fadlun. Dari tadi dia rusuh terus “Hai film so mo habis baru saya belum ada menangis he”, “Eh sapa suru ketawa terus”. Akhirnya sampe film selesai, Fadlun tidak mengeluarkan setetes pun air mata. Ah payah.
***
Lembayung tampak indah dibalik tiang-tiang jembatan empat. Ditemani senja, kami menyusuri jalan pulang menuju Suharso.

Mishfah Fathiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar